//
you're reading...
Intermeso

Sedikit cerita dibalik Beasiswa BPPS

Pada awalnya memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi merupakan kebanggaan tersendiri, tetapi ternyata menerima beasiswa ini ternyata bukan tanpa masalah, seperti masalah keterlambatan pencairan dana beasiswa yang dari tahun ke tahun masih dipermasalahkan oleh sebagian besar penerima beasiswa. Masalah keterlambatan akan sangat menjadi masalah bagi penerima beasiswa dan terutama bagi mereka yang studi di luar. Hal ini menunjukkan instansi pengelola tidak bekerja dalam sistem yang baik dan tidak belajar dari kekurangan sebelumnya, entah apa kenapa masih terjebak dalam permasalahan yang sama setiap tahunnya, padahal selama ini hanya keledai yang jatuh pada lubangan yang sama.

Selain itu, jumlah beasiswa yang oleh sebagian besar mahasiswa dianggap kurang “realistis”, contohnya dalam satu bulan penerima beasiswa BPPS untuk program doktoral hanya dijatah sebesar Rp. 3.325.000,-, dimana Rp.1.500.000,- maksimal at cost langsung dipotong masuk untuk SPP dan yang benar-benar diterima sebesar Rp. 1.825.000,-, uang sebesar inilah yang harus benar-benar pintar untuk dikelola dan dipergunakan dengan sangat perhitungan dan bijak terutama untuk mereka yang telah memiliki keluarga, karena ketika telah mengikatkan diri dengan beasiswa BPPS, penerima beasiswa tidak diperbolehkan untuk mencari “sampingan” lain untuk menutup kekurangan tersebut, jadi harus pintar-pintar main “kucing-kucingan”.

Hal ini relative jarang dialami oleh dosen PTN karena kesejahteraan mereka lebih terjamin meskipun telah dibebastugaskan dari beban mengajar, berbeda dengan dosen PTS yang seringkali dibayar hanya berdasarkan jam mengajar atau adanya kebijakan khusus mengenai bantuan biaya pendidikan dari kampus pengirimnya, itupun kalau disediakan dan memadai.

Benar apa yang disampaikan & selalu diingatkan oleh dosen kami, kami setidaknya harus memiliki 3 hal, yaitu semangat, ragat dan ragat (baca : uang), karena memang untuk bisa mengikuti proses belajar mengajar kita harus bisa menjaga kedua hal tersebut dengan baik. Semangat tanpa uang seperti orang yang tidak memiliki kaki dan hanya berjalan dengan kedua tangan, memiliki uang tanpa semangat akan membuat semuanya menjadi sia-sia belaka.

Kesimpulannya, persiapkan semuanya dengan baik, terutama masalah, niat, konsistensi dan tentunya perencanaan pengelolaan ragat (baca : uang) yang baik terutama bagi mereka yang mengambil program doctoral.

Layar telah terkembang, pantang untuk kembali… Bismillah..

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow Lilium Interspinas on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 12 other followers

arsip

Blog Stats

  • 33,075 hits
%d bloggers like this: